Bupati Mamasa Copot Kapus Nosu, Temuan Investigasi Ungkap Kelalaian Layanan

KAREBA, MAMASA –Menyusul viralnya video seorang pasien lansia yang meninggal dunia di Puskesmas Nosu tanpa mendapatkan penanganan medis, Pemerintah Kabupaten Mamasa mengambil langkah tegas. Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, secara resmi membebastugaskan Kepala Puskesmas Nosu, Bd. Adolfina Y.T., S.Tr.Keb., usai hasil investigasi tim gabungan mengindikasikan adanya kelalaian dalam pelayanan.

Investigasi dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Kepala Dinas Kesehatan, Kepala BKPPD Baso Parjuni, dan Inspektorat, dengan pengamanan dari Polsek Pana’. Tim ini telah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sistem pelayanan Puskesmas, kronologi kejadian, serta mendengarkan keterangan dari keluarga korban.

Bacaan Lainnya

Kepala BKPPD Mamasa, Baso Parjuni, mengungkapkan bahwa tim menemukan pelanggaran serius terhadap standar operasional pelayanan kesehatan. Tidak adanya tenaga medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) saat pasien tiba dalam kondisi kritis menjadi poin utama.

“IGD seharusnya tidak boleh kosong dalam kondisi apa pun. Fakta ini menunjukkan adanya pelanggaran terhadap SOP pelayanan,” tegas Baso Parjuni.

Rekaman video berdurasi lebih dari empat menit yang tersebar di media sosial menunjukkan pasien lansia terbaring lemah tanpa penanganan, hingga akhirnya meninggal dunia. Video tersebut menyulut kemarahan publik dan menuai reaksi luas.

Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Mamasa menjadi salah satu pihak yang paling vokal menanggapi insiden ini. Mereka menyebut tragedi ini sebagai puncak dari akumulasi buruknya manajemen layanan kesehatan di Puskesmas Nosu.

“Ini bukan kejadian pertama. Sudah banyak keluhan sebelumnya. Kami mendesak Bupati untuk mencopot Kepala Puskesmas Nosu demi mencegah jatuhnya korban jiwa berikutnya,” ujar Ketua GAMKI Mamasa, Yusti, dalam pernyataan tertulisnya.

Dalam pernyataan resminya, Kepala Puskesmas Nosu, Adolfina, memberikan klarifikasi atas tudingan kelalaian. Ia menyebut kejadian terjadi dalam situasi yang mendesak, di mana petugas jaga IGD saat itu sedang mengantar pasien rujukan ke RS Polewali, sementara satu-satunya perawat lain sedang menangani proses persalinan di lantai dua.

“Saat pasien datang, satpam kami langsung memanggil perawat yang sedang membantu persalinan. Saya sendiri berada di rumah dinas dan baru tiba setelah pasien meninggal dunia,” jelas Adolfina.

Keterangan tersebut juga dibenarkan oleh satpam bernama Soleman Sulle, yang mengatakan bahwa proses dari kedatangan hingga meninggalnya pasien berlangsung dalam waktu sekitar 10 menit.

Adolfina menekankan bahwa tragedi ini bukan semata-mata kesalahan individu, melainkan cerminan dari krisis sumber daya manusia yang parah. Puskesmas Nosu disebut hanya memiliki empat tenaga kesehatan aktif dan tidak memiliki dokter.

“Kami kekurangan tenaga. Pemda dan Dinas Kesehatan perlu segera memberikan solusi nyata. Penambahan dokter dan perawat sangat mendesak jika ingin pelayanan kesehatan yang layak di daerah ini,” ujarnya.

Tragedi Nosu menjadi gambaran nyata bagaimana lemahnya sistem layanan dasar di wilayah pelosok: kekurangan tenaga medis, fasilitas terbatas, dan implementasi SOP yang tidak disiplin. Saat sistem tidak berjalan semestinya, satu celah bisa berujung pada hilangnya nyawa.

Masyarakat kini menantikan langkah konkret dari Pemkab Mamasa dan Dinas Kesehatan, tak hanya sebatas pergantian pejabat, tetapi juga reformasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan kesehatan agar tragedi serupa tidak terulang kembali.

Pos terkait