PMKRI Toraja Mengecam Keras Tragedi Keracunan MBG 74 Siswa SMAN 3 Toraja Utara

KAREBA, TORAJA UTARA -Tragedi keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memakan korban. Sebanyak 74 siswa SMAN 3 Toraja Utara mendadak tumbang dan harus mendapatkan perawatan medis, di duga usai mengonsumsi MBG. Insiden memilukan ini memicu gelombang kemarahan publik atas kebobrokan sistem pengawasan pangan anak sekolah.

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Toraja menumpahkan kemarahannya dan mengecam keras atas terjadinya keracunan siswa-siswi yang diduga keracunan makanan MBG. Ketua Presidium PMKRI Cabang Toraja, Yoben Sampe, menegaskan bahwa keracunan ini adalah bukti nyata dari kelalaian fatal dan lemahnya kontrol dari pihak – pihak terkait.

Bacaan Lainnya

“Ini bukan lagi sekadar musibah, ini adalah bentuk kelalaian yang sengaja dipelihara! Nyawa dan kesehatan 74 siswa dipertaruhkan hanya karena pengawasan dari pihak berwenang yang sangat bobrok dan asal – asalan. Sampai kapan kesehatan anak – anak kita dijadikan bahan eksperimen?” tegas Yoben Sampe dalam pernyataan sikapnya.

Yoben menambahkan bahwa berulangnya kasus keracunan ini membuktikan tidak adanya komitmen nyata dalam menjamin standar keamanan dan higiene pangan bagi para siswa. PMKRI Cabang Toraja menolak keras anggapan bahwa insiden ini hanya sekadar masalah teknis biasa.

Menyikapi kekacauan ini, PMKRI Cabang Toraja melayangkan tuntutan dan ultimatum keras:

1. Mendesak pihak berwenang untuk segera menghentikan sementara seluruh aktivitas Dapur SPPG di wilayah Toraja dan melakukan pemeriksaan radikal tanpa kompromi.

2. Tuntut proses hukum tegas serta pencabutan izin bagi pengelola Dapur SPPG dan oknum yang terbukti lalai hingga menyebabkan 74 siswa keracunan.

3. Tuntut pertanggungjawaban moral dan pengunduran diri bagi pejabat instansi terkait yang terbukti gagal menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan SPPG.

PMKRI Cabang Toraja menegaskan akan menyuarakan perlawanan dan mengonsolidasikan aksi jika desakan evaluasi total ini diabaikan. Keselamatan dan nyawa para siswa di Toraja adalah harga yang tidak bisa ditawar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *