KAREBA, TEMBILAHAN –Jumlah warga yang dilaporkan menjadi korban dalam rangkaian insiden yang diduga melibatkan seekor kera liar di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, kembali bertambah. Hingga Rabu (5/8/2026), tercatat sebanyak 18 warga dilaporkan mengalami luka akibat insiden tersebut.
Korban terbaru diketahui bernama M. Syapei, warga Jalan Keritang, Kelurahan Tembilahan Hilir. Dengan bertambahnya korban tersebut, jumlah laporan insiden yang diduga melibatkan kera liar di Kecamatan Tembilahan dan Tembilahan Hilir kini mencapai 18 kasus.
Sebelumnya, pada hari yang sama, seorang warga lanjut usia bernama Nurdiana (63), warga Lorong Tampomas, Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan Tembilahan Hilir, juga dilaporkan menjadi korban.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa yang dialami Nurdiana terjadi sekitar pukul 09.30 WIB saat korban sedang menjemur pakaian di belakang rumah. Seekor satwa yang diduga kera liar tiba-tiba datang dari arah belakang dan menyerang korban.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami dua luka robek pada punggung sebelah kiri dan harus menjalani tindakan medis dengan total sekitar 12 jahitan.
Data 18 Korban yang Dilaporkan
Berdasarkan data yang dihimpun, berikut daftar warga yang dilaporkan menjadi korban dalam rangkaian insiden yang diduga melibatkan kera liar di Kabupaten Indragiri Hilir:
1. Nisa Safitri (8), pelajar, Jalan Pangeran Hidayat, Lorong Sepakat Karya, Kelurahan Tembilahan Hilir (23 Juli 2026).
2. Azizah (68), ibu rumah tangga, Jalan Pangeran Hidayat, Lorong Sederhana, Kelurahan Tembilahan Hilir (24 Juli 2026).
3. Zulyanda Yani (34), petani, Jalan Pangeran Hidayat, Lorong Bintan Karya, Kelurahan Tembilahan Hilir (25 Juli 2026).
4. Ajib (41), Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota (27 Juli 2026).
5. M. Rizky (9), Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota (28 Juli 2026).
6. Zainudin (56), Jalan Pangeran Hidayat, Lorong Kubur, Kelurahan Tembilahan Hilir (28 Juli 2026).
7. Kanaya (7), pelajar, Jalan Pangeran Hidayat, Lorong Brata, Kelurahan Tembilahan Hilir (28 Juli 2026).
8. Misnawati (53), ibu rumah tangga, Jalan Pangeran Hidayat, Lorong Bintan, Kelurahan Tembilahan Hilir (29 Juli 2026).
9. Ahmadi (61), wiraswasta, Jalan Pangeran Hidayat, Lorong Kubur, Kelurahan Tembilahan Hilir (30 Juli 2026).
10. Rokayah (40), ibu rumah tangga, Jalan Pangeran Hidayat, Lorong Harapan Baru, Kelurahan Tembilahan Hilir (1 Agustus 2026).
11. Masieh (37), ibu rumah tangga, Jalan Pangeran Hidayat, Lorong Kubur, Kelurahan Tembilahan Hilir (31 Juli 2026).
12. Sutikno (42), wiraswasta, Gang Sejari, Jalan KH Dewantara, Kelurahan Tembilahan Hilir (3 Agustus 2026).
13. Zainudin (56), pedagang, Jalan Pangeran Hidayat, Lorong Kubur, Kelurahan Tembilahan Hilir (insiden kedua, 3 Agustus 2026).
14. Aksa Alfarizky (6), pelajar, Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan Tembilahan Hilir (3 Agustus 2026).
15. Syifa Ramadhani (14), pelajar, Lorong Batu Parit 14, Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan Tembilahan Hilir (3 Agustus 2026).
16. Suharianto (46), PNS, Jalan Keritang, Kelurahan Tembilahan Hilir (5 Agustus 2026).
17. Nurdiana (63), ibu rumah tangga, Lorong Tampomas, Jalan Pangeran Hidayat, Kelurahan Tembilahan Hilir (5 Agustus 2026).
18. M. Syapei, warga Jalan Keritang, Kelurahan Tembilahan Hilir (5 Agustus 2026).
Polres Inhil, Pemkab dan BKSDA Perkuat Sinergi
Di tengah bertambahnya jumlah korban, Polres Indragiri Hilir bersama Pemerintah Kabupaten Inhil dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau memperkuat koordinasi penanganan gangguan kera liar yang meresahkan masyarakat.
Rapat koordinasi digelar di Kantor Lurah Tembilahan Kota, Rabu (5/8/2026) sekitar pukul 14.45 WIB. Kegiatan dihadiri Kapolres Inhil AKBP Donny Eko Listianto, S.H., S.I.K., M.H., perwakilan BKSDA Provinsi Riau Bambang S., Kabag Ops Polres Inhil AKP Dr. Irwanto, S.H., M.H., Kasat Intelkam AKP Jamaluddin, S.H., M.H., Kapolsek Tembilahan IPDA Ripal Indrawata, S.H., M.H., Camat Tembilahan Ary Syuria, S.E., M.Si., serta Lurah Tembilahan Hilir Budiono.
Dalam paparannya, Kapolres menyampaikan bahwa sejak 23 Juli hingga 5 Agustus 2026 telah tercatat 18 kasus penyerangan kera ekor panjang terhadap masyarakat di Kecamatan Tembilahan dan Tembilahan Hilir.
Sebagian besar korban mengalami luka gigitan maupun cakaran pada kepala, tangan, kaki, punggung, pinggul hingga bagian tubuh lainnya. Beberapa korban bahkan harus menjalani tindakan penjahitan dan operasi.
Serangan terjadi secara acak, baik di dalam maupun di luar rumah. Korban diserang saat tidur, makan, bermain maupun beraktivitas sehari-hari. Berdasarkan hasil pemantauan, serangan paling sering terjadi sekitar pukul 08.00 WIB, 09.00 WIB, 13.00 WIB hingga menjelang sore sekitar pukul 17.00 WIB.
Kapolres menegaskan, Polres Inhil bersama TNI, pemerintah daerah dan instansi terkait telah melakukan berbagai upaya penanganan, mulai dari patroli, penyisiran lokasi, pengamanan masyarakat hingga koordinasi lintas sektor.
Sementara itu, Camat Tembilahan Ary Syuria mengatakan hingga kini diperkirakan telah terjadi sekitar 20 kali aksi penyerangan dengan total 18 korban.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah kecamatan mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah sekitar lokasi terdampak hingga Sabtu guna mengurangi risiko terhadap anak-anak.
Ia juga mengungkapkan ciri-ciri kera yang diduga menjadi pelaku, yakni bertubuh besar, berwarna abu-abu kekuningan, berekor panjang, memiliki motif menyerupai kalung di bagian leher serta terdapat bekas luka pada bagian pipi.
Dinas Pemadam Kebakaran juga telah melakukan identifikasi lokasi kemunculan satwa, penyisiran bersama lintas instansi serta memasang perangkap di sejumlah titik yang diduga menjadi jalur lintasan kera.
Sementara itu, perwakilan BKSDA Provinsi Riau, Bambang S., menjelaskan pihaknya masih melakukan identifikasi berdasarkan keterangan saksi dan korban. BKSDA juga akan memasang perangkap khusus berbahan besi dan jaring pada sejumlah titik yang diduga menjadi habitat maupun jalur pergerakan satwa tersebut.
Hasil rapat menyepakati peningkatan koordinasi seluruh instansi dalam penanganan gangguan satwa liar tersebut. BKSDA akan memimpin proses identifikasi, pemasangan perangkap dan evakuasi satwa, sementara Polres Inhil bersama TNI dan instansi terkait tetap melaksanakan pengamanan serta penyisiran untuk mencegah bertambahnya korban.
Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan juga terus mengimbau masyarakat agar tetap waspada serta segera melaporkan kepada petugas apabila mengetahui keberadaan satwa yang diduga meresahkan tersebut.
Dengan sinergi seluruh pihak, diharapkan proses penanganan dapat segera dilakukan sehingga situasi keamanan dan aktivitas masyarakat di Kecamatan Tembilahan kembali berjalan.





